Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 25 April 2017 : INJIL HARUS DIWARTAKAN DENGAN KERENDAHAN HATI

Bacaan Ekaristi : 1Ptr. 5:5b-14; Mzm. 89:2-3,6-7,16-17; Mrk. 16:15-20

Injil harus diwartakan dengan kerendahan hati, mengatasi godaan kesombongan. Itulah nasihat Paus Fransiskus dalam homilinya pada misa harian Selasa pagi 25 April 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan. Liturgi hari itu bertepatan dengan Pesta Santo Markus pengarang Injil.

Bapa Suci berbicara tentang perlunya orang-orang kristiani "pergi mewartakan" Kabar Baik. Seorang pengkhotbah, beliau mengatakan, harus selalu berada dalam sebuah perjalanan, dan tidak mengusahakan "polis asuransi", mengusahakan keamanan dengan tetap tinggal di satu tempat.

Yesus memberi sebuah perutusan kepada murid-murid-Nya : mewartakan Injil, "tidak tinggal di Yerusalem, tetapi pergi keluar untuk mewartakan Kabar Baik kepada semua orang". Dalam homilinya, Paus Fransiskus merenungkan Injil Markus (16:15-20), yang menceritakan kisah Amanat Agung. Beliau mengatakan "Injil selalu diwartakan pada perjalanan, tidak pernah terduduk, selalu pada perjalanan."

Orang-orang kristiani, kata Paus Fransiskus, perlu "pergi ke tempat di mana Yesus tidak dikenal, atau di mana Yesus dianiaya, atau di mana Yesus dinodai, mewartakan Injil yang sesungguhnya" :

"Pergi keluar untuk mewartakan. Dan, juga, dalam pergi keluar ini ada kehidupan, kehidupan sang pengkhotbah dimainkan. Ia tidak aman; tidak ada polis asuransi jiwa untuk para pengkhotbah. Dan jika seorang pengkhotbah mengusahakan polis asuransi jiwa, ia bukanlah seorang pengkhotbah Injil yang sesungguhnya : ia tidak pergi keluar, ia tetap di tempat, aman. Jadi, pertama-tama: Pergi, pergi keluar. Injil, pewartaan Yesus Kristus, pergi keluar, selalu; pada sebuah perjalanan, selalu. Pada sebuah perjalanan jasmani, pada sebuah perjalanan rohani, pada sebuah perjalanan penderitaan : kita memikirkan pewartaan Injil yang menyebabkan begitu banyak orang terluka - begitu banyak orang terluka! - yang menawarkan penderitaan mereka bagi Gereja, bagi orang-orang kristiani. Tetapi mereka selalu pergi keluar dari diri mereka sendiri".

"Tetapi apa langgam pewartaan ini?", tanya Paus Fransiskus. "Santo Petrus, yang adalah guru Santo Markus, sangat jelas dalam penjabarannya tentang langgam ini" : "Injil harus diberitakan dengan kerendahan hati, karena Putra Allah merendahkan diri-Nya sendiri, membinasakan diri-Nya". Inilah, kata Paus Fransiskus, "langgam Allah"; tidak ada yang lain. "Pewartaan Injil", beliau berkata, "bukanlah sebuah karnaval, sebuah pesta". Ini "bukanlah pewartaan Injil".

Injil, Paus Fransiskus mengatakan, "tidak dapat diberitakan dengan kekuatan manusia, tidak dapat diwartakan dengan kekuatan manusia, tidak dapat diwartakan dengan semangat pendakian dan kemajuan". "Ini bukan Injil". Kemudian, kita semua dipanggil untuk melindungi diri dengan "kerendahan hati, satu terhadap yang lain", karena "Allah menentang orang yang sombong, tetapi memberi rahmat kepada orang yang rendah hati" :

"Dan mengapa kerendahan hati ini dibutuhkan? Justru karena kita meneruskan prewartaan kehinaan - pewartaan kemuliaan, tetapi dengan kerendahan hati. Dan pewartaan Injil mengalami godaan : godaan kekuasaan, godaan kesombongan, godaan keduniawian, begitu banyak macam keduniawian sehingga mereka membawakan khotbah atau berbicara; karena ia tidak memberitakan Injil yang yang dicurahkan ke bawah, tanpa kekuatan, sebuah Injil tanpa Kristus yang disalibkan dan bangkit. Dan karena alasan ini Santo Petrus mengatakan : 'Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama'. Pewartaan Injil, jika memang benar, mengalami godaan".

Paus Fransiskus mengatakan bahwa jika seorang kristen mengatakan bahwa ia sedang mewartakan Injil "namun tidak pernah tergoda", itu berarti bahwa "iblis tidak khawatir", karena "kita sedang mengkhotbahkan sesuatu yang tidak berguna".

Karena alasan ini, Paus Fransiskus melanjutkan, "dalam khotbah yang benar selalu ada beberapa godaan, dan juga beberapa penganiayaan". Beliau mengatakan bahwa ketika kita sedang menderita, Tuhan ada di sana "untuk memulihkan kita, untuk memberi kita kekuatan, karena itulah apa yang dijanjikan Yesus ketika Ia mengutus para Rasul" :

"Tuhan akan berada di sana menghibur kita, memberi kita kekuatan untuk maju, karena Ia berkarya bersama kita jika kita setia kepada pewartaan Injil, jika kita pergi keluar dari diri kita untuk memberitakan Kristus yang disalibkan, suatu skandal dan suatu kebodohan, dan jika kita melakukan ini dengan langgam kerendahan hati, langgam kerendahan hati sejati. Semoga Tuhan menganugerahkan kita rahmat ini, sebagai orang-orang yang dibaptis, kita semua, mengambil jalan penginjilan dengan kerendahan hati, dengan percaya diri di dalam Dia, memberitakan Injil sejati : 'Sabda datang dalam daging'. Sabda Allah datang dalam daging. Dan ini adalah sebuah kebodohan, ini adalah sebuah skandal; tetapi melakukannya dengan pengertian bahwa Tuhan ada di pihak kita, Ia berkarya bersama kita, dan Ia meneguhkan karya kita".

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.